Temanggung merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa
Tengah yang terkenal dengan kopi dan tembakau. Kopi di dataran rendah sedangkan
tembakau di bagian lereng gunung. Tembakau di kawasan lereng gunung kualitasnya
lebih baik daripada di dataran rendah. Tembakau yang ditanam di lereng gunung,
mulai dari menanam sampai panen kurang lebih membutuhkan waktu 6 bulan ( jika
di dataran rendah hanya 3-4 bulan) sehingga kadar nikotinnya lebih banyak
daripada tembakau yang ditanam di dataran rendah. Tak heran jika memasuki
kawasan lereng gunung Temanggung sepanjang mata memandang hanya ada hamparan
tembakau. Varietas tembakau asli Temanggung adalah kemloko. Namun petani di
Temanggung juga menanam varietas lain seperti varietas boyolali, BAT, kopeng,
mantili. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan tanam dan bibit yang
mereka miliki.
Ada 3 gunung yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung, yaitu
Gunung Prau, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Panen tembakau di Temanggung
pun beruntun mulai dari sebelah utara, yaitu lereng Gunung Prau yang meliputi
kecamatan Tretep dan Wonoboyo, kemudian di sebelah selatannya, yaitu lereng
Gunung Sindoro yang meliputi kecamatan Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan.
Terakhir adalah lereng Gunung Sumbing yang meliputi kecamatan Parakan, Bulu,
Tembarak, Tlogomulyo.
Bulan Agustus-September adalah masa pengolahan tembakau.
Daun dipetik, kemudian daun diletakkan pada rak bambu, ditunggu sekitar 5 hari
sampai daun “matang” ( berwarna kuning ), disortir, dirajang, dijemur
menggunakan rigen, digulung, dan terakhir dimasukkan dalam keranjang.
Berhati-hatilah jika berkendara di bulan ini karena jalan, terutama di
desa-desa banyak dimanfaatkan untuk menjemur tembakau. Jalan sudah seperti
miliknya sendiri. Jika cuaca sedang mendung maka di jalanan akan ramai oleh
pick up yang penuh muatan rigen untuk mencari tempat yang panas. Jika tembakau
tidak kering dalam sehari maka kualitasnya akan menurun.
Banyak petani menggantungkan hidupnya pada tembakau, hal ini
dikarenakan jika hasil tembakau sedang “baik dan benar” maka hasilnya banyak.
Namun, tembakau sudah tak semenjanjikan dulu lagi. Kualitas tembakau baik
apabila didukung dengan cuaca panas. Pada tahun 2015 keadaan cuaca sangat
mendukung untuk terbentuknya kualitas tembakau yang baik. Kualitas yang baik
tentu saja seharusnya harganya juga baik. Namun , entah siapa yang bermain dan menjadi
pemenang, pedagangkah? Pabrikkah? Pemerintahkah? Entahlah. Yang jelas petani
rugi. Tembakau kualitas baik dibeli dengan harga yang tak baik.
Tahun 2016 petani mencari peruntungan lagi dengan tembakau,
seolah tak pernah kapok dipermainkan. Sayangnya, tahun ini keadaan alam juga
tak bersahabat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebutkan bahwa
tahun ini terjadi kemarau basah, dimana hujan turun saat “seharusnya” musim
panas. Karena terlalu banyak hujan maka kualitas tembakau pun menurun, ditambah
sulitnya menjemur karena minim cahaya matahari. Maka tahun ini petani tembakau
pun rugi, lagi.
Petani di Temanggung masih sulit lepas dari tembakau. Padahal
sudah diedukasi untuk tidak menggangtungkan hidup pada tembakau. Mereka masih
tergiur dengan untung besar dari tembakau (padahal jika rugi jumlahnya juga
besar). Edukasinya yang kurangkah? Penguasa daerah juga tidak melakukan proteksi
terhadap petani. Gudang-gudang milik pabrik rokok nasional berdiri di sini,
Gudang Garam, Djarum, Bentoel. Namun petani terpaksa menurut semua kehendak
pabrik. Petani tidak bisa langsung membawa hasil tembakaunya ke gudang, harus
lewat tengkulak yang mempunyai KTA (Kartu Tanda Anggota) dulu atau biasa
disebut juragan. Barang dulu uang nanti. Tembakau dibawa, menunggu beberapa
hari, bahkan minggu, baru uangnya dibayarkan, dengan catatan tembakau tersebut
lolos masuk gudang. Kalau tidak masuk gudang? Barang kembali. Tak laku. Dan petani
kembali melakukan peruntungan tembakau tahun berikutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar